IBX5B7AA7B12AEAB Frekuensi BAB Bayi, Apakah Normal atau Tidak? - Cahaya Perdana

Iklan

Frekuensi BAB Bayi, Apakah Normal atau Tidak?

Wanita yang baru dikaruniai bayi pastinya akan kerap bertanya-tanya, semestinya berapakali bayi akan BAB dalam sehari? Tetapi ternyata ini meruapakan pertanyaan yang sukar untuk dijawab. Pasalnya bisa saja ada 2 bayi dengan usia yang sama, yang sama-sama memperoleh ASI eksklusif. Akan tetapi bayi yang satu bisa jadi BAB berkali-kali dalam sehari, sedangkan yang lainnya cuma BAB satu kali dalam satu minggu. Itu artinya, frekuensi BAB bayi yang berbeda-beda tersebut termasuk normal saja.

Pada beberapa minggu di awal kehidupan bayi, barangkali ada bayi yang BAB beberapa kali dalam satu hari, ada pula yang BAB setiap usai menyusu. Frekuensi BAB juga akan berkurang seiring dengan pertumbuhan dan perkembangannya.

Pada bulan kedua, bukanlah hal yang ganjil bila bayi tidak BAB dalam satu ataupun dua hari.
Dalam beberapa literatur riset diketahui tentang minimnya frekuensi BAB bayi ASI. Kebanyakan sumber menyatakan kalau frekuensi BAB seminggu satu kali masih dianggap normal. Namun bila lebih lama dari itu, ibu perlu melakukan konsultasi dengan dokter guna memastikan bayi tidak menderita masalah kesehatan.


Bayi yang mengkonsumsi susu formula atau campuran antara ASI dan susu formula relatif BAB lebih jarang daripada bayi ASI. Frekuensi BAB bayi susu formula umumnya konstan selama berbulan-bulan pada awal usia mereka, sedangkan bayi ASI sepertinya kian menurun frekuensi BAB-nya dari bulan pertama.

Mungkin Anda sebagai ibu pernah mendengar buah hati mengeluarkan suara dan mengejan ketika mengeluarkan BAB yang lunak. Hal ini biasa pada bayi lantaran otot-otot dan saraf yang diperlukan untuk mengeluarkan feses masih menumbuhkan energi dan koordinasinya.

Namun bila BAB keras dan menyakitkan ketika dikeluarkan, maka bayi barangkali akan malas  mengeluarkannya. Berikut ini ciri-ciri bayi menderita sembelit.
  • Umumnya ekspresi wajah bayi ketika BAB terlihat tegang dan mengejan berlebihan.
  • Tekstur tinjanya lebih padat.
  •  Semakin jarang buang air kecil atau bahkan tidak.
  • Bayi yang menderita kesulitan BAB atau konstipasi umumnya ditandai dengan wajahnya yang cemas ketika mengejan.
Cuma, tanda bayi mengalami sembelit terkadang tidaklah semudah itu. Pasalnya wajah bayi ketika BAB normal pun kelihatan memerah dan disertai air mata. Untuk itu kenali tanda-tanda si kecil mengalami sulit buang air besar lainnya supaya lebih akurat.

Walau bagaimana pun, BAB atau kotoran bayi adalah suatu indikasi kesehatan. Karema beberapa penyakit dan gangguan kesehatan bisa diidentifikasi pada bayi dengan memperhatikan warna kotorannya.

Oleh karena itu, salah satu tugas yang tidak boleh dilupakan tentunya dengan melihat kotoran bayi setiap kali ia Buang Air Besar, terutama dalam jangka waktu 24 jam pertama hidupnya. Bila bayi tidak BAB selama itu, maka dapat menandakan bila bayi mengalami gangguan dalam sistem pencernaannya.

Share this article / Bagikan Artikel Ini! :