IBX5B7AA7B12AEAB Mengenal Penanganan Nyeri Lanjutan Setelah Stroke - Cahaya Perdana

Iklan

Mengenal Penanganan Nyeri Lanjutan Setelah Stroke

CahayaPerdana.com - Serangan stroke atau pendarahan di otak dapat berakibat fatal terhadap seluruh tubuh. Ibaratnya, otak sebagai pusat pengatur segala aktivitas saraf, fungsinya rusak. Ketika ada aliran aktivitas saraf ke wajah, tangan, dan seluruh tubuh. Kita bisa tertawa, mengobrol, berjalan, dan beraktivitas. Namun, jika telah rusak, wajah bisa jadi kaku dan mencong, tubuh lumpuh, atau otot tangan dan kaki mengecil.

Pada 2009, penelitian di tanah air menyatakan stroke sebagai penyebab kematian utama di Indonesia, dan mencakup 15,4% dari seluruh penyebab kematian. Menurut data WHO 2016, stroke menjadi penyebab kematian kedua di dunia, dan menjadi penyebab disabilitas ketiga di dunia. Di Indonesia, berdasarkan penelitian epidemiologi stroke tahun 2017, penyebab stroke paling sering yakni hipertensi, aktivitas fisik yang kurang, disusul kebiasaan merokok.

Yang paling penting, pada zaman now, waspada terhadap kebiasaan duduk nongkrong lama di tempat kongkow, main gim dalam waktu lama, juga cukup berpengaruh. Akibat adanya perubahan atau kerusakan di otak, penyintas biasanya merasakan sakit kepala yang hebat dan menderita kelumpuhan. Lumpuh bisa menyerang sebelah bagian badan atau seluruhnya, tergantung kerusakan di otak. Otak kanan yang terkena serangan, lumpuh akan melanda tubuh sebelah kiri, begitu juga sebaliknya.

Lumpuh setelah stroke tidak permanen, tetapi ada tingkatannya. Makin tidak bisa digerakkan, pemulihannya semakin membutuhkan waktu dan melibatkan berbagai disiplin ilmu. Ada yang sampai tidak bisa memegang benda atau mencengkeram.

Kelumpuhan di kaki membuat postur tubuh miring dan pasien berjalan pincang. Kondisi itu lama-kelamaan menimbulkan nyeri tulang belakang akibat ketidakseimbangan. Kadang leher, pinggang, atau panggul yang terasa sakit. Akibat menopang beban bagian sebelahnya yang lumpuh.

Pada wajah, serangan stroke ditandai dengan mencongnya sebagian muka akibat kerusakan saraf. Separuh bagian yang lumpuh itu terasa baal/kebas. Saat makan, penderita tidak bisa mengunyah sempurna dan sering tersedak. Tidak jarang ia memuntahkan lagi makanan.

Kasus yang paling memprihatinkan ialah jika stroke menyerang orang dengan obesitas. Orang dengan berat badan berlebih akan menopang badannya yang lumpuh hingga berjalan miring. Rasa sakit di bagian yang lumpuh bermacam-macam. Ada yang sakit bagaikan  ditempel es yang amat beku dalam waktu lama, rasa terbakar, sampai terasa seperti dicubit. Itu terasa hampir di seluruh bagian yang mengalami kelumpuhan. 

Berbeda rasanya dengan sakit di kepala karena otak sebagai pusatnya saraf rusak, maka saraf-saraf di sekitarnya akan terganggu. Makanya sering sakit di kepala depan, kepala belakang, atau samping. Sakit ini kadang hilangnya sebentar, kadang berhari-hari. Bisa sembuh, tetapi membutuhkan waktu.

Sakit bisa bertambah parah jika di lokasi yang terdampak kelumpuhan, mengalami benturan. Seperti akibat jatuh terpeleset.

Pada tulang belakang, dampak serangan stroke bisa sampai berakibat perubahan postur tubuh. Hal itu biasanya menyerang orang yang sudah mengalami osteoporosis lebih dulu. Belum lagi, akibat stroke, seseorang juga bisa menjadi duduk di kursi roda sepanjang hari. Hal itu bisa mengakibatkan sakit dibawah tulang belakang ekor.

Begitu selamat dari serangan stroke, dia akan mengikuti pengobatan fisioterapi. Kalau ada hipertensi dan kelainan jantungnya, harus diobati bersama spesialis yang berkompeten, bahkan kadang sampai melibatkan psikiater untuk yang stres dan depresi. [Gita Pratiwi/PRM/16062019]

Share this article / Bagikan Artikel Ini! :