IBX5B7AA7B12AEAB Kaji Ulang Waktu Anak Bermain Gadget - Cahaya Perdana

Iklan

Kaji Ulang Waktu Anak Bermain Gadget

CahayaPerdana.com - Saat di sekolah dan di rumah tentunya para pendidik (guru dan orangtua) memiliki beragam cara untuk terus mengasah memori anak. Tumbuh kembang anak tak hanya secara fisik, tetapi keadaan mental emosi dan memorinya ikut berkembang. Anak dengan usia 6-12 tahun sedang mengalami puncak keingintahuan terhadap sesuatu hal. Oleh karena itu, orangtua di rumah dan guru di sekolah perlu memberikan pendampingan dengan cara yang menyenangkan dan menghargai keunikan anak.

Memasuki era digital tentunya membuat orangtua mengkhawatirkan kegiatan anaknya selama memegang gadget. The American Academy of Pediatrics memiliki kebijakan untuk mencegah penggunaan gadget pada anak di bawah 6 tahun, juga membatasi waktu penggunaan gadget pada anak di atas 6 tahun, yaitu 2 jam sehari. Berkembangnya teknologi telah mengubah banyak aspek kehidupan sehari-hari. Diperlukan pembatasan waktu untuk anak-anak dalam menggunakan gadgetnya. Pembatasan waktu itu berlaku apabila anak Anda menggunakan gawai untuk kepentingan hiburan, bukan kewajiban memahami pelajaran.

Kebijaksanaan tersebut mengungkapkan lebih lanjut mengenai sisi perlindungan dan pencegahan. Penggunaan gadget untuk anak-anak di bawah 5 tahun tidak memiliki manfaat, justru dikhawatirkan memiliki bahaya. Apalagi bila digunakan oleh anak-anak yang sedang dalam masa belajar sekaligus berkembang lewat interaksi langsung antarmanusia. Hal itu akan menyebabkan anak-anak merasa bahwa teknologi adalah sesuatu yang penting bagi kehidupan mereka. Misalnya, ketika mereka harus terpisah dari orangtuanya yang sedang tugas belajar di kota lain atau menghubungi neneknya di tempat yang jauh, video call adalah pilihan. Padahal, anak-anak di bawah umur memerlukan kontak dan interaksi langsung dengan manusia. Dikhawatirkan teknologi justru akan membuat anak tidak lagi memedulikan hal di sekitarnya.

Meskipun begitu, ada pendapat lain mengenai penggunaan gawai. Menurut Dimitri Christakis, teknologi bisa digunakan sebagai bahan pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak; ia melanjutkan, apa yang harus ditekankan adalah orangtua perlu memastikan anak-anak mereka mendapatkan waktu penggunaan gadget yang benar. Keluarga perlu membuat waktu offline selama beberapa jam setiap harinya untuk keluarga. Hal itu demi membangun hubungan berkualitas antara satu sama lain dalam keluarga ataupun dengan orang lain.

Untuk masa pertumbuhan anak dengan pikiran yang terus berkembang, anak harus mengetahui kegunaan dari apa yang mereka pelajari. Anak akan lebih mudah ingat karena ia bisa merelasikan ilmu yang ia pelajari di kehidupan sehari-hari. Salah satu mata pelajaran yang berhubungan dengan perkembangan anak ialah physical and social education. Materi psikologis yang dipelajari meliputi learning style and how to remember something yang bermanfaat untuk anak menjadi individu yang lebih kreatif dan mudah dalam mengingat sesuatu. Maksud mata pelajaran tersebut agar anak dapat mengingat sesuatu hal dengan mudah. Misalnya, membuat singkatan seperti mejikuhibiniu (singkatan warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu). Dengan cara itu, anak akan lebih kreatif di masa perkembangannya.

Hubungan ilmu yang anak pelajari dalam kehidupan sehari-hari relevan dengan beberapa ide utama dari Montessori, yaitu memperlakukan anak dengan normal, berperan sebagai fasilitator, serta mempersiapkan lingkungan yang mendukung kegiatan anak dan sesuai kebutuhannya. Selain itu, Montessori menerapkan pendekatan ketika anak sebisa mungkin mengoreksi kesalahan yang ia buat sendiri, memberi kesempatan anak untuk bekerja sesuai dengan ritme anak tersebut, juga mengobservasi kapan anak siap untuk mempelajari hal baru.

Setiap orangtua tentunya memiliki pola bimbingan sendiri yang dirasa tepat untuk membesarkan anak-anak mereka. Berbeda dengan orangtua di generasi-generasi sebelumnya, orangtua masa kini tak hanya mendapatkan pengalaman mereka dari orangtua mereka sebelumnya, tetapi juga dari berbagai sumber informasi lain, seperti buku, media, dan tentunya dokter, psikolog, juga ahli pendidikan anak (paedagog). Hal itulah yang kemudian membuat orangtua mulai menyadari ada berbagai bentuk bimbingan yang bisa mereka pilih, pelajari, kemudian terapkan. Salah satunya adalah pola pengasuhan (attachment parenting).

Attachment parenting adalah suatu cara membimbing anak yang memfokuskan pada menjaga hubungan harmoni yang dibangun orangtua dengan anaknya. Menjaga hubungan emosional dengan anak dipandang sebagai cara yang ideal untuk membesarkan anak agar merasa aman, mandiri, dan berempati. Para pendukung metode dan filosofi ini, termasuk salah satu di antaranya adalah William Sears. Ia menyimpulkan bahwa ikatan kepercayaan serta rasa aman antara anak dan orangtuanya akan membentuk dasar kuat bagi hubungan anak dan kemandirian mereka ketika tumbuh dewasa. Attachment parenting merupakan pendekatan teori keterikatan milik John Bowlby. Teori keterikatan menyatakan bahwa anak secara naluriah memerlukan kedekatan terhadap "figur kelekatan" yang aman atau terjamin. Kelekatan itu perlu untuk anak guna merasa aman menurut emosional.

Dasar pemikiran pola pengasuhan tersebut menunjukkan bahwa anak belajar untuk memercayai dan berkembang ketika kebutuhan mereka diberikan oleh orangtuanya secara konsisten pada usia awal. Anak-anak yang tidak pernah mengalami keterikatan ini pada awal-awal usianya, tidak mampu membentuk hubungan keterikatan yang sehat nantinya. Mereka menjadi lebih tidak merasa aman, kurang empati, dan dalam beberapa kasus ekstrem, memiliki gangguan keterikatan dan temperamen.

Jadi, pola pengasuhan merupakan komitmen besar dan merupakan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh ibu saja. Anak membutuhkan kasih sayang sama besarnya dari ayah, bersama kenyamanan dan kesenangan yang hanya bisa diberikan ayah. Ayah juga bisa membimbing anak dengan cara mencintai dan mendukung ibunya karena pola pengasuhan tidak akan berhasil dengan baik tanpa bantuan dari ayah. 

Share this article / Bagikan Artikel Ini! :