Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Operasi Bariatrik, Yuk Kenali Plus Minusnya


CahayaPerdana.com - Semakin banyak orang Indonesia yang mengalami kelebihan berat badan alias obesitas. Berdasarkan laporan Global Burden of Diseases yang dipublikasikan dalam jurnal Lancet pada 2014, Indonesia menduduki peringkat 10 sebagai negara dengan total kasus obesitas tertinggi di dunia.

Untuk menangani obesitas, ada berbagai cara. Biasanya, pasien obesitas disarankan untuk menjaga pola makan sehat dan berolah raga secara teratur. Akan tetapi, ada kasus ekstrem tatkala hal tersebut sudah tidak dimungkinkan lagi. Maka, bariatrik surgery atau operasi bariatrik menjadi salah satu pilihan yang direkomendasikan dokter. Sebenarnya, apa dan bagaimana operasi bariatrik itu?

Operasi bariatrik adalah tindakan medis khusus yang ditujukan untuk mengatasi masalah obesitas ekstrem. Biasanya, penurunan berat badan pascaoperasi bisa mencapai 40% hingga 68% dalam selang waktu dua tahun.

Operasi itu tergolong dalam operasi besar yang mengubah anatomi lambung karena harus dilakukan dengan merombak isi perut. Prinsipnya adalah mengecilkan kapasitas lambung sehingga perut terasa lebih cepat penuh. Karena alasan itu, banyak orang yang menyebutnya sebagai operasi pengecilan lambung.


Tak semua pasien obesitas bisa langsung menempuh prosedur operasi tersebut. Operasi bariatrik bukanlah operasi kosmetik untuk membuat tubuh menjadi langsing. Akan tetapi, lebih pada upaya kesehatan demi mencegah dan mengatasi penyakit-penyakit komplikasi akibat obesitas. Dengan demikian, pasien akan menjalani hidup yang lebih sehat karena kualitasnya juga meningkat.

Dokter bedah biasanya merekomendasikan operasi ini jika pasien obesitas memiliki indeks massa tubuh lebih dari 35 dengan penyakit penyerta. Ada beberapa syarat lain bagi penderita obesitas yang ingin menempuh operasi bariatrik. Antara lain mengalami dua atau lebih penyakit kronis, memiliki berat badan yang tak kunjung turun meski telah diet dan menjalankan pola hidup sehat, serta tidak sedang mengonsumsi obat-obatan yang dapat bertentangan dengan operasi bariatrik.

Tiga Jenis
Ada tiga jenis prosedur operasi bariatrik utama yang sering dilakukan. Pertama adalah pemotoangan lambung atau sleeve gastrectomy. Prosedurnya dengan mengangkat beberapa bagian dalam organ pencernaan.

Ada pun tujuannya adalah membatasi makanan yang masuk dan dicerna. Operasi jenis ini cukup populer. Selain itu, ada juga prosedur ikat lambung (vertical banded gastroplasty). Operasi ini cukup populer pada 5-10 tahun lalu. Mekanismenya, dengan memasang cincin berbahan silikon pada saluran yang akan masuk ke lambung (seperti fungsi ikat pinggang). Kemudian dibuat lubang agar pasien bisa menyuntikkan cairan ke cincin tersebut. Bila disuntikkan air, cincin silikon tadi akan membuat sempit saluran masuk makanan ke lambung.

Karena semakin sempit, makanan dan minuman akan menyangkut di saluran yang hendak masuk ke lambung. Otomatis, lambung terasa kenyang lalu mengirimkan "sinyal" ke otak untuk berhenti makan karena kondisi sudah terasa kenyang.

Jika pasien sudah mengalami kondisi obesitas yang sangat berat, maka operasi bypass lambung bisa menjadi yang direkomendasikan dokter. Operasi dilakukan dengan cara membagi area-organ pencernaan menjadi lebih kecil. Mekanisme bypass lambung adalah dengan membagi lambung menjadi dua.

Bagian atas yang lebih kecil dan bagian bawah yang lebih besar. Bagian bawah tidak digunakan, sedangkan bagian atas yang lebih kecil dibuatkan saluran langsung (bypass) ke usus kecil. Tujuannya membuat perut cepat penuh dan rasa kenyang pun tahan lama.

Prosedur bypass lambung dilakukan dengan membatasi ruang lambung, sehingga makanan yang masuk ke lambung tidak terlalu banyak. Pada akhirnya, tindakan ini bisa memangkas kalori tubuh.

Lebih lanjut juga ada prosedur kombinasi yang akan membuat malabsorpsi zat gizi makro dan zat gizi mikro yang masuk ke dalam tubuh. Cara ini dilakukan untuk membatasi penyerapan makanan yang masuk. Contoh prosedur ini adalah Biliopancreatic Diversion (BPD) dan BPD dengan Duodenal Switch (BPD DS).

Adapun keuntungan melakukan operasi bariatrik adalah pasien dapat menurunkan berat badan. Penyebabnya, kapasitas lambung menjadi lebih sempit sehingga jumlah makanan yang bisa dikonsumsi pasien menjadi sedikit. Begitu pula dengan tingkat pencernaannya sehingga berat badan lebih terkendali.

Operasi bariatrik juga mampu menurunkan risiko penyakit berbahaya seperti jantung, diabetes, stroke, tekanan darah tinggi, serta penyakit lain yang berhubungan dengan kadar lemak di dalam tubuh. 

Ketahui Risikonya
Sama seperti prosedur medis lain, cara menurunkan berat badan lewat operasi bariatrik juga memiliki beberapa risiko yang harus dipertimbangkan. Efek samping yang paling sering muncul adalah masalah pencernaan, seperti kesulitan menelan, konstipasi, diare, mual, dan intoleransi pada beberapa jenis makanan. Kulit kendur juga bisa terjadi di area bekas operasi.

Selain itu, pembentukan batu empedu bisa terjadi karena penurunan berat badan yang terlalu cepat. Rambut rontok juga bisa terjadi.

Prosedur pengikatan lambung pun memiliki risiko mengakibatkan pelebaran saluran kerongkongan bila pasien makan dalam porsi banyak sekaligus. Ini menyebabkan pasien mesti terus menjalankan diet ketat sepanjang hidup dan teratur kontrol pascaoperasi.

Ada beberapa risiko operasi lain yang mungkin dihadapi. Misalnya, pasien berpotensi terkena anemia dan osteoporosis.

Ketika melakukan bypass lambung, bagian dari usus yang banyak dan paling mudah menyerap mineral dan vitamin akan dilewati. Oleh karena itu pasien mungkin mengalami kekurangan zat besi, kalsium, magnesium, atau vitamin. 

Jika tidak diantisipasi, hal itu dapat menyebabkan masalah jangka panjang, seperti anemia (kurang darah) dan osteoporosis. Risiko infeksi perut juga mungkin terjadi. Juga, dumping syndrome atau kondisi isi perut bergerak terlalu cepat melalui usus kecil. Akibatnya, menyebabkan mual, muntah, pusing, diare, dan berkeringat pada pasien.

Ada pula beberapa risiko lain seperti dehidrasi, hernia di lokasi sayatan, batu ginjal, dan gula darah rendah.

Prosedur bypass lambung juga memiliki kekurangan karena dapat menyebabkan kekurangan gizi jangka panjang. Alasannya, operasi ini dapat mengubah bentuk organ pencernaan sehingga menyebabkan tubuh kurang bisa menyerap zat gizi secara maksimal. Artinya, pasien harus mengonsumsi suplemen vitamin dan mineral seumur hidup untuk membantu mencukupi kebutuhan gizi harian. [Endah Asih/Maman Soleman 10/03/2019]

Maman Malmsteen
Maman Malmsteen Aktif menulis sejak tahun 1986 di media massa. Menjadi announcer di Radio Fantasy 93,1 FM sejak tahun 1999. Menjadi Blogger sejak tahun 2010. Sekarang aktif sebagai Content Writer untuk beberapa Blog/Website.
Follow Berita/Artikel Cahaya Perdana di Google News