IBX5B7AA7B12AEAB Inilah 3 Perpustakaan Terunik di Dunia - Cahaya Perdana

Iklan

Inilah 3 Perpustakaan Terunik di Dunia

CahayaPerdana.com - Masyarakat sering kali merujuk perpustakaan sebagai tempat atau bangunan fisik permanen yang digunakan untuk menyimpan berbagai koleksi buku dan majalah. Padahal, di berbagai negara, banyak juga perpustakaan terunik, yang mungkin tak sempat terpikirkan sebelumnya.

Unta
Di Kenya, ada perpustakaan berjalan yang alih-alih menggunakan kendaraan berrnotor sebagai pengangkut sumber bacaan, namun justru menggunakan punggung unta. Dikutip dari laman merdeka.com, unta-unta itu dibekali pelana dengan kotak kayu di kedua sisinya.

Kotak kayu itu penuh berisi buku bacaan dan tikar. Ada pula perbekalan bagi sang pustakawan. Kemudian, unta-unta tersebut melakukan perjalanan bersama para pustakawan melintasi padang pasir yang tandus. Unta-unta tersebut kemudian mampir ke komunitas-komunitas nomaden dan sekolah terpencil di gurun pasir, terutama Timur Laut Kenya, untuk meminjamkan buku kepada anak-anak atau orang dewasa.


Program itu bernama Camel Library. Dilansir dari laman Kenya National Library Service (KNLS), program itu sudah berjalan sejak 1985. Tujuannya untuk menanggulangi tingkat buta huruf di kalangan warga Kenya yang hidup secara nomaden, karena kurangnya akses terhadap pendidikan dan sumber bacaan.

Camel Library memiliki ribuan anggota perpustakaan. Tentu saja, Camel Library kemudian menjadi salah satu perpustakaan terunik di dunia. Meskipun, jumlah unta jantan yang bisa digunakan untuk misi itu serta tenaga pustakawan tetap menjadi tantangan tersendiri.

Namun, keberadaan Camel Library mendapatkan sorotan perhatian dari banyak pihak. Sebuah film dokumenter tentang Camel Library pernah memenangi penghargaan di Jerman. Hal itu juga memacu lebih banyak pihak agar mendonasikan buku-buku kepada mereka.

Perpustakaan ini "melapak" setiap Senin hingga Kamis, mulai dari pukul 8.00 hingga petang. Penduduk yang sudah terdaftar sebagai anggota perpustakaan, bisa meminjam maksimal dua buku selama dua minggu. Biasanya, pustakawan akan menggelar tikar berikut buku-buku yang mereka bawa di tengah lapangan atau di bawah pohon.

Dalam waktu singkat, warga pun mengerubuti buku yang mereka bawa. Di saat bersamaan, unta bisa beristirahat sambil menunggu.

Punggung Keledai
Jika di Kenya ada perpustakaan yang "diangkut" unta, maka di Kolombia, ada perpustakaan yang koleksi bukunya diantarkan keledai. Namanya, Biblioburro. Artinya perpustakaan keledai. Penggagasnya, Luis Soriano Bohorquez. Dia adalah guru sekolah dasar di Kolombia. Soriano mengantongi ijazah sarjana di bidang literatur bahasa Spanyol.

Awalnya, Soriano merasa khawatir bahwa anak-anak di daerah pedalaman tidak akan bisa mendapatkan akses untuk membaca. Dia lalu mendapatkan ide untuk "menugaskan" Alfa dan Beto pergi ke pedalaman dengan membawa buku-buku. Terutama, di daerah sekitar La Gloria, bagian utara Kolombia.

Kepada CNN, ia mengatakan bahwa ide itu didapatkan pada 1990. Soriano memiliki dua ekor keledai, yaitu Alfa dan Beto. Menyaksikan besarnya pengaruh membaca kepada murid-muridnya yang hidup susah sejak usia dini, Soriano memutuskan untuk membuat Biblioburro.


"Di perdesaan, seorang anak harus jalan kaki atau naik keledai sekitar 40 menit untuk mencapai sekolah terdekat. Kesempatan anak-anak untuk masuk SMP dan SMA, sangatlah minim. Jumlah guru yang ingin mengajar di daerah perdesaan juga sangat sedikit," katanya.

Dikutip dari Huffington Post, sebelum berangkat, biasanya Soriano mengisi rak kayu bikinan sendiri yang disampirkan di punggung Alfa dan Beto dengan buku. Bukunya macam-macam. Paling sering buku fiksi remaja dan anak-anak. Tetapi setiap beberapa hari sekali diselingi buku pelajaran.

Kemudian, Soriano melakukan perjalanan 6-8 jam (pulang-pergi) untuk mengunjungi anak-anak di desa-desa sekitar. Sesampainya di tempat tujuan, Soriano membongkar buku bawaannya. Selain meminjamkan koleksi buku, Soriano juga membacakan buku kepada anak-anak. Ia bahkan membantu mereka mengerjakan pekerjaan rumah. 

Koleksi bukunya berawal dari 70 buah. Seiring waktu, sumbangan buku untuk Biblioburro terus berdatangan, hingga mencapai ribuan buku. Kini, koleksi Biblioburro sudah disimpan di dalam gedung perpustakaan sendiri. Ukurannya kecil. Namun, di sana, Soriano bisa mengajar dan membacakan buku dalam kondisi yang lebih layak.

Terapung
Selain itu, juga ada perpustakaan terapung di Norwegia. Namanya, Epos. Sesuai dengan namanya, perpustakaan ini dibangun di atas perahu. Bersama Epos, pustakawan selalu mendatangi tempat-tempat yang berbeda. Khususnya ke tempat yang masih kekurangan sumber bacaan.


Tujuannya terutama untuk mengantarkan buku ke lebih dari 250 komunitas kecil di Fjord (pulau-pulau kecil dengan karakteristik salju dan juga tebing curam). Kapalnya memiliki koleksi sekitar 6.000 buku bacaan. Epos juga dilengkapi dengan beberapa kru yang bertugas sebagai nahkoda, koki, beberapa pustakawan, dan seorang penghibur.