IBX5B7AA7B12AEAB Praktik Pendidikan Inklusif di Sekolah - Cahaya Perdana

Iklan

Praktik Pendidikan Inklusif di Sekolah

CahayaPerdana.com - Gambaran sikap inklusi itu terlihat dari proses yang diarahkan dan merespons adanya kebutuhan peserta didik yang beragam dengan meningkatkan partisipasi dalam belajar, kegiatan budaya dan komunitas, serta mengurangi ekslusivitas dalam pendidikan. Pendidikan inklusif (PI) mencakup perubahan dan modifikasi isi, pendekatan, struktur, dan strategi pembelajaran dengan misi utamanya mengakomodasi semua anak berusia sekolah yang menjadi tanggung jawab sistem pendidikan reguler untuk mendidik mereka (UNESCO, 1994).

Menyinggung opini guru tentang pendidikan inklusif menunjukkan bahwa pengetahuan tentang pendidikan inklusif diterima oleh guru pada umumnya dari seminar atau lokakarya (workshop) yang diselenggarakan pemerintah. Selain itu, beberapa guru belajar sendiri dari berbagai sumber bacaan.


Pendidikan inklusif dipahami secara beragam dan umumnya PI disamakan dengan pendidikan integrasi. Padahal, konsep dasar pendidikan integrasi berbeda dengan inklusi. Pada pendidikan integrasi, peserta didik disabilitas bisa mengikuti proses belajar di sekolah reguler apabila anak tersebut telah memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh kelas atau sekolah yang dimasukinya dan mengikuti proses pembelajaran serta kurikulum seperti teman sebayanya di kelas. Pada layanan inklusif yang ramah pembelajaran, program, tujuan, metode, strategi, dan evaluasi pembelajaran serta kurikulumnya dimodifikasi sesuai dengan keunggulan dan hambatan peserta didik disabilitas.

Di samping itu, tidak jarang guru menganggap bahwa pendidikan inklusif berkaitan dengan penempatan anak berkebutuhan khusus atau anak disabilitas di sekolah dasar dan menengah reguler. Guru pada umumnya menyetujui PI untuk dilaksanakan di sekolah-sekolah meskipun ada pula yang menolak penerimaan anak berkebutuhan khusus di sekolah mula-mula terjadi secara alamiah dan tidak direncanakan.

Beberapa anak berkebutuhan khusus atau anak disabilitas tidak terdeteksi sejak awal. Setelah diketahui adanya sesuatu yang berbeda dengan peserta didik yang lain, misalnya, prestasi belajar rendah, muncul perilaku aneh, mengalami keterlambatan perkembangan, sekolah merekomendasikan agar anak pindah ke sekolah khusus atau sekolah luar biasa (SLB).

Alasannya cukup beragam, tetapi ketidakmampuan guru dalam menangani anak berkebutuhan khusus merupakan alasan yang paling sering dikemukakan. Inisiasi untuk memasukkan mereka ke sekolah umumnya dari orangtua. Desakan orangtua dan rasa empati terhadap kesulitan orangtua tidak jarang menjadi pertimbangan sekolah sehingga terpaksa menerima ABK.

Di samping itu, rasa kasihan juga seeing dijadikan alasan untuk menerima anak berkebutuhan khusus di sekolah. Alasan-alasan semacam itu (yang dianggap kurang fundamental) memengaruhi cara sekolah memberikan perlakuan terhadap mereka yang umumnya belum sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan inklusif yang telah dan menjunjung tinggi keberagaman.

Pada umumnya, guru-guru di SD, SMP, dan SMA/SMK menyetujui pendidikan inklusif dilaksanakan di sekolah dengan alasan dan motivasi berbeda-beda. Meskipun pendidikan inklusif belum sepenuhnya diimplementasikan, banyak guru yang telah memiliki pengalanaan mengajar anak disabilitas di sekolah reguler. Pengalaman itu diperoleh secara tidak sengaja, tidak direncanakan, dan berjalan secara alamiah.

Pengalaman semacam itu sangat berpotensi untuk dibina dan dikembangkan secara profesional agar mereka melakukannya dengan sepenuh hati dan motivasi yang lebih positif serta kuat. Efektivitas pelatihan untuk mengubah perilaku seseorang dapat dijelaskan dengan perubahan sikap seseorang. Dengan diberikan informasi yang benar, pengetahuan seseorang menjadi benar. Pada gilirannya, pengetahuan yang benar membuat seseorang bertindak benar pula. Berdasarkan argumen itu, dapat diduga guru yang telah mengikuti pelatihan pendidikan inklusif akan menerapkan prinsip-prinsip PI yang benar dan bahagia.

Apakah bahagia itu dan apakah lebih berbahagia itu ketika guru telah mendapatkan pengalaman praktik pendidikan inklusif dalam proses pembelajaran di kelas? Sampai beberapa tahun lalu, para guru termasuk manusia yang bahagia kalau hanya berurusan dengan hal-hal duniawi semata. Bahagia saja, dalam sikap guru tersebut, ternyata masih menyelipkan rasa iri hati karena yang bahagia itu hanya fisik guru semata yang sifatnya kuantitatif. Ingin lebih berbahagia itu artinya ingin naik kelas. Ingin lebih dari sebelumnya.

Guru ingin lebih berbahagia dalam kualitas hidup ketimbang kuantitas. Kalau dimisalkan, guru ini punya rumah lima hektare di lima lokasi "berbeda", maka secara duniawi guru itu akan bahagia banget. Fisik guru yang bahagia, secara kuantitas, tetapi guru itu ingin lebih berbahagia. Guru tersebut ingin rumah yang lima hektare itu menjadi sekolah agar orang di dalamnya atau yang masuk ke dalamnya mampu merasakan rumah yang penuh dengan cinta, ramah, bahagia psikis (jiwanya), yang memamerkan kehangatan, dan bukan seperti show room atau unit tak bernyawa.

Dengan demikian, pendidikan inklusif mencakup perubahan dan modifikasi isi kurikulum. Materi kurikulum yang mencerminkan latar belakang dan pengalaman semua peserta didik.

Pada sekolah penyelenggara pendidikan inklusif, fleksibilitas kurikulum merupakan prinsip utama dan hal ini dapat dilakukan melalui beberapa cara, yaitu: (1) Duplikasi dengan memberi kesempatan anak berkebutuhan khusus untuk mengikuti kurikulum yang disamakan dengan peserta didik yang lain; (2) Adaptasi, yaitu menyesuaikan dengan kebutuhan dan hambatan anak berkebutuhan khusus; (3) Substitusi, yaitu merupakan kurikulum yang dibuat secara tersendiri; (4) Omisi, kurikulum yang disediakan itu harus dihilangkan karena tidak dapat digunakan pada anak berkebutuhan khusus; (5) Ekstensi, yaitu kurikulum yang dibuat harus memberi peluang bagi pengembangan atau memperluas materi agar anak berkebutuhan khusus dapat mengoptimalkan potensinya.

Pada umumnya, guru-guru menerima dan menyetujui praktik pendidikan inklusif dalam proses pembelajaran di sekolah. Meskipun demikian, mereka memiliki alasan dan motivasi yang berbeda-beda dalam menerima pendidikan inklusif. Penerimaan terhadapnya tidak semata-mata ditentukan oleh pemahaman mereka terhadap konsep pendidikan inklusi, tetapi juga didasarkan atas nilai-nilai lain seperti nilai agama, budaya, serta tradisi yang dianutnya.

Share this article :